Saya menemukan beberapa desain kandang ayam hias yang dapat digunakan untuk kandang ayam serama, dalam model-model kandang dibawah ini sangat elegan baik dalam hal manfaat maupun arsitekturnya. Setiap bentuk kandang memiliki ruang umbaran dan ruang istirahat yang tertutup, di dalam ruang tertutup dapat pula difungsikan sebagai tempat ayam serama bertelur dan mengeram.
Bila ayam serama saat berada di meja kontes seperti bengong, diam saja atau kalaupun sempat bergerak hanya jalan beberapa langkah saja kemudian diam lagi disebut mati gaya..
Jangankan membusungkan dada kemudian menarik kepalanya ke belakang leher, karena posisi diamnya pun juga tak jauh beda dari ayam biasa. sayapnya tak ditarik ke depan. Lehernya juga menyelonjor saja. Selama dua sampai tiga menit di atas meja tetap diam saja. Ayam serama yang mati gaya seperti itu sebagus apapun posturnya pastilah nilainya di kolom gaya kecil sekali. Untuk ayam kelas dewasa dan muda yang bergaya seperti itu paling maksimal hanya 19 ( dari 25 % nilai maksimal )dan akan sulit untuk meraih juara.
Mengapa serama sampai mati gaya. Bisa dikarenakan dari sononya memang tidak punya bakat bergaya atau memang kurang latihan. Yang tak punya bakat bergaya sebetulnya bisa dilihat dalam kesehariaan. Ayam tersebut tak terlihat ceria suka memamerkan kebolehannya memperagakan aneka gaya khas serama. Saat dipegang juga cenderung liar karena kurang dekat dengan manusia.
Karena itu saat membeli serama sebaiknya dites di atas meja. Apakah dia aktif bergerak namun tampak agresif. Atau malah diam dan bengong. Bila sejak awal sudah mati gaya apalagi usianya sudah lewat remaja (di atas lima bulan), dilatih bagaimanapun juga tetap susah.
Untuk mengatasi serama yang mati gaya disarankan agar ayam sering dilatih di atas meja kontes. Ayam serama yang memang dipersiapkan ke kontes sebaiknya sering dilatih di atas meja. Bahkan saat dijemur pagi hari, sebaiknya juga di atas meja kontes.
Karena dengan melatih seperti itu ayam jadi tak kagok dan minder saat di arena kontes yang biasanya rame dijubeli penonton.
Di tempat kontes, secara umum para juri menilai penampilan ayam serama dari aspek sosok dan gaya. Kedua aspek itu dinilai dengan prosentase yang berbeda, yakni gaya 25% dan sosok 75%.
Sosok
Kepala dan jengger (10%)
Tubuh (15 %)
Serama Kelas A (bobot ≤ 360 gram), Serama Kelas B (bobot 361-500 gram)
Warna bulu (8%)
Kondisi bulu (5%)
Sayap (7%)
Ekor (15%)
Sepasang bulu pedang (Lawi) (10%)
Kaki (5%)
Gaya
Atraktif (10 %)
Angkat dada (15 %)
Uraiannya secara lengkap adalah sebagai berikut :
Jenis dan Sifat
Jenis – Ciri utama adalah kepala tertarik ke belakang, bagian belakang pendek, sayap vertikal dan ekor panjang, penuh, dan apabila berkembang tidak menyentuh balung. Posisi tengah mata sama dengan posisi tengah kaki ketika berdiri.
Sifat – Terlihat gagah, tegap, berani dan yakin. Lagak suka menonjol seperti berkokok dan suka berdiri.
Bagian Tubuh
Kepala dan jengger (10%) – Ukuran kepala kecil, proporsional dengan tubuh. Muka merah cerah dan bersih.Organ-organ yang ada di kepala seperti paruh, telinga, hidung, dan mata tidak cacat. Jengger, salah satu bagian penting dalam penilaian. Ukuran jengger tidak terlalu besar atau kecil (proporsional) dengan bentuk menyerupai lengkungan kurva. Posisi jengger tegak tidak miring, berwarna merah segar. Jumlah gerigi maksimal 5 dengan ukuran dan kedalaman seragam.
Ekor (10%) – Ukuran besar, vertikal dan tinggi. Bulu ekor utama panjang, melentik di penghujung dan berkembang seperti bentuk V.Lawi(ayam jantan) vertical 90o dan sedikit melentik kebelakang di saat terakhir. Ekor selalu terlihat mekar dengan bukaan 45o dari arah samping, atau menyerupai huruf A. Bulu-bulu yang menyusun ekor minimal berjumlah 6 helai dan dilengkapi bulu asuh minimal 5 helai. Posisi ekor lurus, tidak miring kekanan atau kekiri. Susunan antar bulu rapi menyerupai anak tangga dilihat dari ujung bulu. Kedudukan bulu pertama tegak keatas hamper membentuk sudut 90odan rapat ke bulu pedang (lawi). Tingginya melebihi kepala. Bulu pertama yang terlalu kedepan di nilai kurang baik.
Sayap (7%) – Ketika berdiri, sayap ayam dalam posisi vertikal tetapi sedikit membelok kebelakang. Ujung sayap bersentuhan sedikit dengan lantai. Dalam keaadaan berdiri normal, tidak jinjit, ujung sayap menyentuh jari-jari kaki. Posisinya mengarah kedepan sehingga tegak lurus ke lantai. Sayap yang menggantung mengurangi nilai. Semakin tinggi posisi menggantungnya, semakin banyak pengurangan nilainya. Bulu sayap juga tidak boleh ada yang tanggal, sobek, dan melintir.
Warna (8%) – Penilaian warna bulu tidak mempunyai patokan khusus. Namun, warna – warna langka cenderung dinilai lebih besar seperti putuh polos atau hitam solid. Seiring dengan perkembangan jumlah populasi, warna-warna cerah, rinting, mas, dan berpola spot – spot dibagian dada kian diminati.
Bulu (5%) - Khusus induk betina dan anakan poin bulu rendah karena ada yang sebaik warna bulu jantan. Bulu kemas atau rapat mempunyai nilai lebih karena mengesankan sosok ayam lebih kecil. Bulu kemas dicirikan dengan tulang-tulang halus, melekat erat ketubuh, tidak mengembang. Bulu yang terlihat mengkilap, rapi, bersih, tidak berkutu. Poin berkurang bila bulu disekitar dubur tampak rusak.
Badan (15%) – Tegap dan bulat. Dada ayam lebih luas dari bagian belakang apabila dilihat dari atas. Dari tepi, badab berbentuk V. Belakang ayam pendek dan lebar dibagian bahu. Perbandingan antara lebar tubuh dan tinggi berdasarkan tipenya: tubuh tipis 25%, tubuh ideal 40-50% dan tubuh bulat lebih dari 60%. Belakangan tipe tubuh tipis dengan dada menonjol lebih disukai karena mengesankan serama lebih mini. Dengan begitu pinggangpun akan terlihat lebih ramping.
Kaki (5%) – tidak begitu rapat dan parallel. Panjang sederhana dan seimbang dengan ukuran sayap. Paha berotot dan sederhana panjang. Taji dibagian tengah betis, keras, kecil dan menuju kebelakang kaki. Panjang kaki proporsional dengan tubuh. Tungkai kaki langsing dengan jari-jari yang lentik. Sisik dan kuku jari lengkap dan tidak cacat. Warna kaki selama ini tidak dinilai, yang penting serasi dengan warna bulu. Serama berbulu putih atau terang biasana berkaki kuning atau putih. Sedangkan ayam serama yang berbulu gelap, warna kakinya abu-abu atau hitam.
Lawi (10%) – Bagi serama remaja dan dewasa,ekor dilengkapi sepasang bulu pedang atau lawi. Semakin panjang bulu lawi emakin bagus.Serama size kecil 6-7 cm; size sedang dan besar 8-9 cm. Namun, bulu lawi harus keras sehingga berdiri tegak 90° mengikuti bulu ekor pertama. Posisi lawi melebihi 90°, kurang baik. Bentuk lawi lancip seperti daun ilalang, berujung runcing.
Para pecinta serama perlu mengetahui perbedaan antara grade dengan size. Istilah Grade dipergunakan dalam pertandingan serama, dan digunakan untuk menentukan klas pertandingan. Grade diperuntukan bagi ayam-ayam dewasa atau diatas umur 7 bulan. Dalam pertandingan biasanya digunakan 2 (dua) klas masing-masing: Klas A Atau Grade A dengan bobot dibawah 360 Gram, sedangkan Klas B atau Grade B dengan bobot 360 gram sampai 500 gram, dan Klas C atau Grade C dengan bobot diatas 500 gram.
Sedangkan istilah Size adalah tentang tinggi dan besarnya body, dan biasa digunakan dalam istilah breeding.Size terbagi dalam 3 (tiga) kategori: size Kecil (Small), size Sedang (Medium), dan size Besar (Large). Bagi pemula saya tidak menyarankan untuk mencoba ternak dengan menggunakan indukan atau pejantan size kecil apalagi dengan postur tubuh yg extrem, karena mempunyai tingkat kesulitan yang sangat tinggi ketika diternak.
Selamat mencoba dan jangan pernah putus asa kuncinya adalah: Teliti, Telaten, dan Sabar.
Jengger merupakan mahkota bagi ayam. Kadang tak selamanya kita mendapatkan ayam dengan Jengger yang baik ataupun tidak sesuai dengan kondisi fisik ayam tersebut. Untuk merubahnya bisa dengan sedikit operasi pembentukan kembali Jengger. Pada dasarnya Jengger tidak memiliki organ yang berbahaya jika di buang sebagian atau di bentuk kembali. Namun perlakuan untuk meminimalisir sakit dan luka sebaiknya kita lakukan hal-hal yang membuat ayam sedikit nyaman. Selain urusan luka, masalah estetika sangat dibutuhkan agar tampilan serama natural dan cantik.
Jengger ayam serama yang bentuknya kurang bagus
Pertama- tama kita gambar dulu jengger ayam dengan spidol untuk menentukan area potong. Bisa mencontoh gambar yang ada ataupun kreasi sendiri. Perhatikan garis tengah yang ada pada jengger (tanda panah). Sesuaikan dengan bentuk agar tidak memotong garis tengah. Karena garis tengah itu merupakan salah satu yang dilihat juri dalam menilai jengger.
Menggambar bentuk jengger dengan spidol
Setelah gambar sudah dibuat, suntikan bius lokal. Suntik pada beberapa titik terutama sekitar area potong. Setelah suntik, tunggu 1-2 menit. Pastikan bius bekerja dengan menusuk jengger dengan jarum suntik. Bila tidak ada reaksi, artinya bius sudah bekerja. Siap untuk pemotongan.
Melakukan pembiusan lokal dengan memberikan suntikan pada daerah jengger
Potong dengan hati-dan tenang agar pemotongan bisa rapih. Ikuti alur spidol yang telah dibuat.
Melakukan pemotongan jengger pada garis spidol yang sudah dibentuk
Setelah selesai. Bersihkan luka dan beri antiseptik pada luka. Ayam kini sudah dalam tampilan baru.
Bentuk jengger baru yang selesai dilakukan pemotongan
Sumber Literatur : http://goldsseramafarm.blogspot.com/
Jengger ibarat mahkota bagi ayam serama. Karena itu keindahanya menjadi salah satu kriteria yang dinilai pada saat kontes. Selain bentuknya yang indah dan proporsional, warna jengger harus terlihat cerah dan mengkilap. Itulah sebabnya perawatan jengger juga tak kalah penting.
Banyak cara dilakukan hobiis untuk merawat jengger. Para peternak di Malaysia biasanya mengolesi jengger dengan minyak jelantah bekas menggoreng ikan. Minyak bekas itu biasanya mengandung kunyit dari bumbu yang mengandung antibiotik. Karena itu mereka biasa menggunakan minyak goreng bekas itu untuk pengkilap dan pengobat luka pada ayam serama.
Beberapa hobiis ditanah air merawat kesehatan jengger dengan mengoleskan virgin coconut oil (VCO). Minyak kelapa murni itu bersifat antibakteri sehingga bisa digunakan untuk mengobati luka dan mencegah infeksi.
Anda dapat melihat perkembangan embrio ayam pada saat telur ayam berada dalam masa inkubasi atau dalam masa pengeraman oleh induknya. Dari hari ke-1 sampai dengan hari ke-21